Soal Masih Tingginya Harga Gas di Morut, Praktek Pasar Oligopoli Merugikan Konsumen?

Ilustrasi LPG 3 Kg

TIME SULTENG – Terkait soal masih tingginya harga LPG 3 Kg disaat bulan Ramadhan 1447 H, konsumen resah, akibat dugaan permainan kartel gas, demi memaksimalkan keuntungan bersama. Praktik ini umumnya terjadi pada struktur pasar oligopoli yang merugikan konsumen karena harga menjadi terlalu tinggi.

Keluhan demi keluhan warga pun muncul dari hampir di semua Desa di Kecamatan Petasia, Kabupaten Morowali Utara (Morut).

Parahnya lagi ada indikasi pasokan gas ditangani oleh para spekulan harga, informasi yang diterima, LPG 3 Kg bersubsidi asalnya dari daerah luar Morowali Utara yang masuk diduga diselundupkan, lalu di turunkan ke kios pengecer.

“Harga LPG 3 kg bersubsidi sudah melebihi standar dari harga HET, hingga saat ini di hari ke tujuh bulan ramadhan, harga gas masih berada pada posisi Rp 65.000 – Rp 70.000 pertabung, itupun carinya susah,” ujar Andi Tajuddin kepada media ini, kamis 26/02/2026 dengan nada keluh.

Sementara pantaun dilapangan, salah satu pengelola rumah makan Coto di Desa Bunta, harga LPG 3 Kg disini tembus ke angka Rp 70.000 hingga Rp 75.000 pertabung

“Usaha warung Coto, bakal mengalami kerugian, pasalnya tidak berimbang dengan harga gas yang melambung tinggi,” keluh Amanda pengelola warung Coto Makassar di Desa Bunta. **/ Rudy A.Mairi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *