Setiap Es Cream Tanpa Sari Manis, Tersimpan Doa dan Perjuangan Seorang Ayah

Daeng Mahdan (54), penjual es krim/es tong-tong Keliling

TIME SULTENG – Gerobak kecil itu terus bergerak perlahan menyusuri jalan-jalan di Kabupaten Tojo Una-Una. Di bawah terik matahari, seorang lelaki paruh baya tampak setia mendorongnya dari satu tempat ke tempat lain.

Wajahnya sederhana, langkahnya tenang, tetapi di balik itu tersimpan tekad yang tak pernah surut.

Ia adalah Daeng Mahdan (54), perantau asal Bone, Sulawesi Selatan, yang sejak 2017 menetap di Kabupaten Tojo Una-Una.

Di daerah inilah ia menambatkan harapan hidup dengan menjual es cream tradisional, atau yang akrab disebut masyarakat sebagai es tong-tong.

Es yang dijual Daeng Mahdan memiliki keunikan tersendiri.

Tanpa menggunakan sari manis atau pemanis buatan, es buatannya tetap menghadirkan rasa manis yang alami.

Rasa itu lahir dari racikan sederhana, bahan-bahan pilihan,dan tangan terampil yang telah bertahun-tahun mengolahnya.

Namun, manis yang sesungguhnya bukan hanya terletak pada rasa es tersebut.

Di setiap es krim yang dijual, tersimpan kerja keras, doa, dan cinta seorang ayah untuk keluarganya.

Setiap hari, sekitar pukul 08.00 Wita, Daeng Mahdan mulai berjualan.

Ia berkeliling ke berbagai sekolah di Kecamatan Ratolindo, Ampana Tete, hingga Desa Balinggara.

Perjalanan panjang itu dijalani dengan penuh semangat, demi menjemput rezeki yang halal.

Sebagai ayah dari tujuh anak, tanggung jawab yang dipikulnya tidaklah ringan.

Namun, dari hasil berjualan es tong-tong itulah, ia mampu membesarkan keluarga dan membiayai pendidikan anak-anaknya hingga ke bangku kuliah.

“Alhamdulillah, dari jualan es ini saya bisa menyekolahkan anak-anak sampai kuliah,”ujarnya saat ditemui di Jalan Merdeka, Kelurahan Uemalingku, Minggu (26/4/2026).

Dalam sehari, omzet penjualannya bisa mencapai sekitar Rp1 juta.

Dengan modal harian lebih dari Rp500.000, hasil yang diperoleh cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus menopang pendidikan anak-anaknya.

Bagi Daeng Mahdan, gerobak es itu bukan sekadar alat mencari nafkah.

Ia adalah simbol perjuangan, ketekunan, dan kasih sayang yang tak pernah berhenti mengalir.

Di tengah kerasnya kehidupan, Daeng Mahdan membuktikan bahwa dari usaha sederhana, lahir harapan besar.

Dari setiap es krim tanpa sari manis yang ia jual, ada doa yang dipanjatkan, ada cinta yang diperjuangkan, dan ada masa depan yang sedang dibangun untuk anak-anaknya. **/ BD

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *