Karyawan Dua Anak Terdampak PHK PT.GNI, Pasrah Menerima Kenyataan Pahit, Cicilan Masih Menumpuk
Timesulteng, MORUT – Nirfan Salenda yang sudah bekerja sekitar empat tahun di PT. Gunbuster Nickel Industry (GNI) di Kabupaten Morowali Utara dan berstatus karyawan permanen mengaku terkejut ketika tiba-tiba dirinya mendapat surat panggilan.
“Surat panggilan di peroleh pada hari selasa 4/8 sore, awalnya dirinya tidak berharap untuk mendapat surat panggilan Pemutusan Hubungan Kerja, namun hari rabu 5/8 dirinya menghadap memenuhi surat panggilan, ternyata panggilan untuk PHK,” Ujar Nirfan kepada media ini dengan nada pasrah.
Meski demikian, setelah terdampak PHK, ia tetap berupaya mencari lapangan pekerjaan baru, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari demi biaya pendidikan seorang anaknya yang duduk di bangku Sekolah Dasar (SD).
“Saya tinggal dirumah kos dengan sewa perbulan Rp 1 juta, ditambah dua orang anak dan seorang istri, setelah ia resmi terkena PHK, beban hidup bertambah berat jadinya, belum lagi bayar cicilan masih menumpuk,” Katanya dengan nada pasrah.
Tak hanya terdampak terhadap karyawan terkena PHK, sektor pelaku usaha ikut merasakan dampaknya.
“Hari ini tanggal 5/8 mulai proses PHK, pelaku usaha kuliner ikut terdampak, sebelum dimulainya PHK, omzet penjualan masih stabil, namun hari pertama proses PHK, penjualan mulai terasa menurun hingga 30 persen, belum lagi proses PHK selanjutnya hingga 1.900 karyawan, omzet penjualan diprediksi menurun hingga 50 persen,” Kata salah satu pelaku usaha kuliner di seputar area industri nikel di Desa Bunta Kecamatan Petasia Timur kabupaten Morowali Utara.
Sementara informasi yang diperoleh dari beberapa karyawan yang terdampak PHK, ada sekitar 6.400 karyawan, yang terkena PHK sekitar 1.900, proses PHK ini dimulai pada hari rabu 5 Agustus hingga empat hari kedepan. **/ Rudy A. Mairi



